Bahrul Ulum: Uang Panai, Bentuk Deskriminasi Terhadap Laki-laki?

bahrululum, 16 Mar 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI - Isa, Perempuan yang bunuh diri karena uang panai dari kekasihnya ditolak oleh keluarganya. Keluarga tidak menyangka Isa nekat bunuh diri dengan meminum racun.

Pihak keluarga mengakui memang menolak lamaran awal dari pacarnya karena faktor ekonomi. Mereka berharap, dengan uang mahar yang cukup, keduanya bisa menikah dengan resepsi sederhana, (detikcom).

Uang Panai masih saja menjadi perdebatan di kalangan perempuan dan anak muda, bagaimana tidak, kebanyakan diantara perempuan itu, uang panainya di tentukan oleh orang tuanya. Siapa juga yang tidak suka dengan uang? Pertanyaannya adalah, jangan-jangan mereka di jual, haha. Itu masih menjadi diskusi anak muda sampai saat ini.

Uang panai itu sendiri adalah sejumlah uang yang harus diserahkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang hendak diperistri.

Sebagian perempuan juga mengatakan bahwa uang panai itu adalah bukti pengorbanan dan perjuangan untuk seorang lelaki. Pertanyaannya lagi, untuk membina rumah tangga, apa hanya laki-laki saja yang harus berjuang?

Perjuangan itu dimulai ketika sudah ada kata sah, berjuang bersama lebih baik dibanding harus membebankan biaya kesejahteraan keluarga kepada laki-laki.

Menurut sejarah, para raja sengaja meninggikan uang panai supaya masyarakat biasa tidak bisa melamar putrinya, itulah yang kemudian menjadi budaya turun temurun sampai saat ini, tapi apakah itu masih relevan untuk sekarang ini?

Sekarang adalah zaman milenial, Perempuan menuntut kesetaraan gender, mereka ingin sekolah tinggi dan berkarir, pekerjaan rumah dan mengurus anak adalah tanggung jawab bersama antara perempuan dan laki-laki. Ini akan menjadi perdebatan panjang antara laki-laki yang tidak paham dengan konsep kesetaraan. mereka akan berkata, Masa sih? Enak saja, apapun latar belakang pendidikan perempuan, tetap saja akan kembali ke dapur, sumur dan kasur.

Sebagai penulis, saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, silahkan sekolah tinggi dan berkarir, itu adalah hak setiap orang dan memang pada kenyataannya, perempuan dan laki-laki harus bertanggung jawab untuk mengurus anak dan pekerjaan rumah, tapi tentunya ketika berbicara persoalan kesetaraan, seharusnya perempuan juga ikut berpartisipasi untuk biaya kesejahteraan keluarga (uang panai).

Dalam berbagai diskusi, saya menemukan, salah satu faktor mahalnya uang panai, yaitu, rasa malu atau dalam bahasa sehari-hari disebut (siri'). Orang tua perempuan malu ketika ditanya, berapa uang panainya anak ta' ? (putrinya) makanya keluarga perempuan membebankan biaya yang cukup besar untuk laki-laki. Tidak masalah jika laki-laki itu mampu, tapi ketika tidak mampu, maka dampaknya adalah silariang (kawin lari) atau melihat orang yang yang kita sayang bahagia dengan orang lain.

Sebenarnya sederhana, berapapun yang diminta oleh keluarga perempuan itu bisa saja langsung di terima dengan cara meminjam uang di Bank, tapi apakah perempuan ingin membantu untuk melunasi ? Apakah hubungan setelah menikah itu bisa bertahan ?

Dalam Islam, uang panai bukan bagian dari syarat sah menikah dan bukan pula salah satu kewajiban yang harus ditunjukkan dalam pernikahan. Syarat sah menikah adalah Ijab Kabul, mahar, mempelai perempuan dan laki-laki, wali dan saksi.

Dalam hal memutuskan uang panai, saya menganggap bahwa, seorang perempuan berada dalam ketidakadilan, dapat dilihat dari kekuasaan sang ayah dalam menentukan jumlah uang panai putrinya dan dia memiliki hak penuh dalam mengambil keputusan tanpa memberikan peluang kepada putrinya untuk memberikan hak penuh pada dirinya sendiri.

Perempuan seolah di sejajarkan dengan komoditi-komoditi ekonomi yang di pertukarkan. "Wanita yang paling berkah dan paling baik adalah yang paling mudah maharnya"

Bahrul Ulum

Pemerhati Keseteraan Gender

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu